Buyer bisnis ekspor rempah sepi = omzet ekspor lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, dan berbagai rempah Indonesia lo terus turun setiap hari
Follow up buyer berantakan = calon buyer internasional lebih memilih supplier dari negara lain yang lebih responsif
Konten perusahaan masih asal bikin = buyer luar negeri kurang percaya, inquiry sedikit, dan conversion ekspor tetap rendah
Owner masih ngurus hal kecil = waktu habis buat balas email, kirim quotation, follow up buyer, dan negosiasi sehingga bisnis ekspor rempah susah berkembang
Tim marketing kelihatan sibuk terus = biaya marketing bisnis ekspor rempah terus naik, tapi penjualan ekspor tetap seret